MISTISISME DALAM INJIL THOMAS
(Tafsir Injil-Injil Apokrif)
Oleh: Ophin Tanis
Injil Thomas merupakan salah satu dari sekian banyak Injil Apokrif (yang tersembunyi) yang mencoba untuk menjelaskan tentang siapa Kristus dan siapa manusia. Injil Thomas yang berisi 114 logion (perkataan) Yesus, sebagaimana injil-injil non-kanonik yang lain syarat akan nafas gnostik yang membuatnya sulit untuk diterima begitu saja dalam lingkungan Kristen dewasa ini, dan juga pada zamannya. Kenyataan yang terlihat adalah bahwa Injil Thomas adalah produk Gnostik, suatu aliran sempalan yang berkembang pada abad ke-II dan ke-III. Injil Thomas ditemukan dalam pustaka Gnostik lainnya di Nag Hammadi. Injil ini kemudian menjadi masalah karena mendapat perhatian dalam perdebatan Jesus Seminar, yang kemudian menempatkan sebagai injil tertua dan sebagai yang asli. Hal ini terus menjadi bahan perdebatan karena dasar untuk mengatakan bahwa Injil ini sebagai yang tertua tidaklah kuat dan sulit untuk diterima.
Terlepas bahwa injil ini menjadi bahan perdebatan para ahli Kitab Suci dan bernafas gonstik, Injil Thomas sebenarnya dapat memberikan informasi tentang bagaimana pola penghayatan kerohanian orang-orang Kristen Perdana[1] pada saat penulisannya. Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk menafsirkan isi injil Thomas secara literer, yakni dengan menafsirkan setiap tulisan yang ada di dalamnya. Hal yang secara khusus hendak dilihat adalah pemahaman pemahaman mistik dalam Injil Thomas. Saya mengambil ini dengan pemahaman bahwa mulai pengantar, penulis Injil Thomas menyebutkan bahwa Injil ini adalah rahasia, hanya orang-orang tertentu yang dapat menafsirkannya (# 1) dan penafsiran itu melalui usaha yang mendalam dan akan penuh dengan kesusahan, dan setelah menemukan tidak akan mengalami kematian (# 2). Lalu, pada bagian akhir injil Thomas (# 113), diterangkan bahwa pencarian Kerajaan Allah itu tidak akan ditemukan ‘di sini’ atau ‘di sana’ tetapi tersebar di dunia yang manusia tidak bisa melihatnya. Ini merupakan suatu model pencarian formasi kesadaran spiritual, ia merupakan suatu realitas batin[2].

