MISTISISME DALAM INJIL THOMAS
(Tafsir Injil-Injil Apokrif)
Oleh: Ophin Tanis
Injil Thomas merupakan salah satu dari sekian banyak Injil Apokrif (yang tersembunyi) yang mencoba untuk menjelaskan tentang siapa Kristus dan siapa manusia. Injil Thomas yang berisi 114 logion (perkataan) Yesus, sebagaimana injil-injil non-kanonik yang lain syarat akan nafas gnostik yang membuatnya sulit untuk diterima begitu saja dalam lingkungan Kristen dewasa ini, dan juga pada zamannya. Kenyataan yang terlihat adalah bahwa Injil Thomas adalah produk Gnostik, suatu aliran sempalan yang berkembang pada abad ke-II dan ke-III. Injil Thomas ditemukan dalam pustaka Gnostik lainnya di Nag Hammadi. Injil ini kemudian menjadi masalah karena mendapat perhatian dalam perdebatan Jesus Seminar, yang kemudian menempatkan sebagai injil tertua dan sebagai yang asli. Hal ini terus menjadi bahan perdebatan karena dasar untuk mengatakan bahwa Injil ini sebagai yang tertua tidaklah kuat dan sulit untuk diterima.
Terlepas bahwa injil ini menjadi bahan perdebatan para ahli Kitab Suci dan bernafas gonstik, Injil Thomas sebenarnya dapat memberikan informasi tentang bagaimana pola penghayatan kerohanian orang-orang Kristen Perdana[1] pada saat penulisannya. Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk menafsirkan isi injil Thomas secara literer, yakni dengan menafsirkan setiap tulisan yang ada di dalamnya. Hal yang secara khusus hendak dilihat adalah pemahaman pemahaman mistik dalam Injil Thomas. Saya mengambil ini dengan pemahaman bahwa mulai pengantar, penulis Injil Thomas menyebutkan bahwa Injil ini adalah rahasia, hanya orang-orang tertentu yang dapat menafsirkannya (# 1) dan penafsiran itu melalui usaha yang mendalam dan akan penuh dengan kesusahan, dan setelah menemukan tidak akan mengalami kematian (# 2). Lalu, pada bagian akhir injil Thomas (# 113), diterangkan bahwa pencarian Kerajaan Allah itu tidak akan ditemukan ‘di sini’ atau ‘di sana’ tetapi tersebar di dunia yang manusia tidak bisa melihatnya. Ini merupakan suatu model pencarian formasi kesadaran spiritual, ia merupakan suatu realitas batin[2].
Dengan demikian, tulisan ini hendak menjelaskan lebih lanjut sejauh mana teks-teks dalam injil Thomas berbicara tentang hal-hal mistik. Untuk menjelaskan ini, tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian penting, yakni pertama, penjelasan singkat tentang perkenalan dengan Injil Thomas; kedua, mencoba memahami komunitas di mana terbentuknya Injil Thomas; ketiga, hal-hal mistis dalam Injil Thomas; dan keempat, penutup.
Sekilas tentang Injil Thomas
Injil Thomas merupakan koleksi tradisional perkataan-perkataan Yesus (114 perkataan). Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan pengantar “Yesus berkata....” atau kadang dengan pertanyaan atau pernyataan para rasul yang bertanya kepadanya. Ada beberapa model perkataan: kata-kata kebijaksanaan (petuah) yang digunakan hendak menjelaskan dunia dan situasi orang yang hidup di dalamnya. (31-35, 45, 47, 94). Perumpamaan mengungkapkan penemuan identitas dan tujuan seseorang dalam kata-kata kebijaksanaan sebagai dasar sebuah komunitas. (8-9, 20, 63-65, 76, 96-98, 107, 109). Perkataan eskatologi (kenabian); Warta kenabian mengungkapkan bahwa tempat bagi perjumpaan/penemuan spirit Kerajaan adalah hal yang ideal, yang harus disadari tanpa dan diinternalisasikan dalam imajinasi individual. (17,23,28,77, 90,108). Dan peraturan bagi komunitas, di bawah Yesus sebagai otoritas. Peraturan komunitas menampilkan sebuah penafisran kritis atas kode etik kehidupan religius. (6,14,27,53,104). Mereka muncul tidak terencana dalam komposisi yang baik. Gaya penulisan masuk dalam aliran koleksi Chreia (chreia collection). Injil Thomas merupakan tulisan esoterik (hanya ditujukan untuk kalangan terbatas), yang dinyatakan mencatat ajaran rahasia Yesus, ajaran yang dikhususkan untuk orang-orang yang memenuhi syarat untuk untuk mendengar ajaran ini.
Pengarangnya mengaku sebagai Didimus Yudas Thomas-sesuai dengan prolog Injil Thomas. Yudas= kembar, Thomas (Aram)= kembar, Didymos (yun)=kembar. Di Syria Yudas Thomas dikenal sebagai saudara Yesus yang mendirikan Gereja Timur, Edessa (Ia juga disebut sampai ke India). Banyak perdebatan soal nama Thomas ini. Namun, menurut para ahli pengarang Injil Thomas adalah Yudas Thomas yang dikarang di Syria.Berdasarkan penemuan tulang-tulang atau relikwi Thomas pada abad IV, banyak ahli mengatakan bahwa di Syriala tempat penulisan, tepatnya di Osrhoene.
Injil Thomas diyakini memiliki relasi dengan Kitab Perjanjian Baru. 68 perkataan dari 114 sabda ada paralelnya dengan teks Perjanjian Baru. Hal ini membawa konsekuensi jauh bagi hubungan keduanya. Selain ada paralel dengan injil kanonik ada juga paralel dengan yang bukan kanonik, seperti Injil menurut Umat Ibrani dan Injil orang Mesir. Dari jenis literer, Injil Thomas memiliki sumber yang sama dengan injil kanonik, yakni Quelle seperti digunakan oleh Matius dan Lukas. Injil Thomas memang sangat erat terkait dengan PB namun terdiri dari kumpulan sabda yang independent. Pertanyaan tentang hubungan antara Injil Thomas dan PB masih bisa dipecahkan. Relasi antara Injil Thomas dan tradisi sinoptik dapat dilihat dalam beberapa bukti kuat: Injil Thomas mengetahui banyak tulisan PB. Banyak kutipan yang digunakan sama dengan injil kanonik. Injil Thomas memuat banyak bahan dari Injil belakangan. Begitu banyak bahan yang terkandung dalam Injil Thomas yang berasal dari tulisan khas Matius, Lukas dan Yohanes. Penemuan ini menyimpulkan bahwa Injil Thomas mengenal tradisi belakangan, bukan dari tradisi awal. Injil Thomas mencerminkan pengeditan. Hubungan Injil Thomas dengan Lukas dapat dilihat dalam pengeditan Lukas atas Markus yang dikutip juga oleh Injil Thomas. Pendeditan Injil Thomas mencerminkan pengenalan akan tradisi Syria Timur
Komunitas Tempat Terbentuknya Injil Thomas
Teks Injil Thomas yang ada sekarang ini adalah teks koptik. Teks koptik Injil Thomas diterjemahkan dari teks Yunani yang sudah hilang. Ditemukan di antara papirus oxyrhynchus (Poxy) yang dipublikasikan pada 1897 dan 1904. Diidentifikasikan sebagai Injil Thomas setelah ditemukannya perpustakaan Nag Hammadi. Fragment Yunani ini berasal dari sebuah manuskrip yang ditulis sebelum tahun 200. dengan demikian versi Yunani teks ini digunakan di Mesir sekitar awal abad 2. Dalam penulisan terakhir, ada yang mengatakan bahwa teks ini ditulis di Syria. Diragukan apakah aslinya ditulis dalam bahasa Aram dan Syria kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan koptik. Meskipun banyak ungkapan sama seperti ungkapan tertua injil Kanonik, bahasa Aram. Namun, tidak ada fakta yang mengatakan demikian selain bahasa Yunani dan terjemahan Koptik. Dugaan kuat bahwa Injil Thomas berasal dari Syria Timur karena nama Yudas Thomas ditemukan dalam karya yang berasal dan beredar di Syria. Injil Thomas merupakan sebuah tulisan isoterik[3], yakni tulisan yang hanya ditujukan bagi kalangan terbatas. Dari tulisan Injil Thomas sendiri ditegaskan bahwa yang mampu untuk mengerti kata-kata Yesus haruslah mampu menafsirkan isi tulisan ini (#1, 2). Orientasi isoterik dan pribadi tulisan ini sangatlah jelas. Isi tulisan ini ditujukan bagi orang yang mampu menafsirkan berarti orang yang mampu menerima adalah kalangan elit rohani, dan bukan kalangan umum. Tujuan ini menjadi semakin jelas dengan adanya aturan-aturan komunitas, seperti pentingnya dan bagaimana cara berpuasa (#6, 14, 27, 104), sunat (#53) dan beberapa aturan lainnya.
Selain itu, pendasaran atas peraturan sangat jelas dari perkataan-perkataan Yesus. Pendasaran itu dapat kita temukan dalam model perumpamaan (#8-9, 20, 63-65, 76, 107, 109) yang disampaikan Yesus; “Para murid berkata kepada Yesus: seperti apa Kerajaan surga. Dia menjawab kepada mereka. ‘Kerajaan surga seperti sebuah benih lada. Benih itu merupakan benih yang terkecil dari semua benih. Tetapi apabila benih itu jatuh di tanah yagn sedang digarap, ia akan menghasilkan sebuah tumbuhan yang besar dan menjadi sebuah tempat persinggahan bagi burung-burung di langit’.” Inti dari peraturan dan kehidupan mereka terletak pada bagaimana usaha mereka untuk menemukan Kerajaan surga. Warta kenabian yang disebutkan juga menyebutkan bahwa tempat bagi perjumpaan dengan kerajaan surga adalah hal yang ideal, yang harus disadari. Peraturan-peraturan yang ada ini juga menjadi semacam kritik atas kode etik religius.
Dari isi Injil Thomas yang menampilkan pendasaran dan peraturan hidup komunitas, kita dapat menyimpulkan bahwa para pengikut Injil Thomas atau yang menerima Injil Thomas merupakan suatu kelompok orang yang tinggal bersama dan menjalankan hidup bersama secara eksklusif. Dengan demikian kita dapat menggolongkan kelompok Injil Thomas sebagai suatu bentuk awal Kekristenan yang memusatkan perhatian pada ucapan-ucapan dari ajaran-ajaran Yesus. Dari sejarah ditemukannya Injil Thomas dalam sebuah perpustakaan dan dugaan tahun penulisan pada abad II ditegaskan pula hal ini.
Dari penggambaran tentang dan tempat penemuan Injil Thomas kita juga menemukan bahwa di tempat itu pula ada semacam gerakan kerohanian seperti itu, seperti kaum esseni dan thaerapeuti[4]. Kedua golongan ini merupakan bentuk monakeisme Yahudi, yang bersumber pada teks Perjanjian Lama. Inti dari gerakan-gerakan ini adalah menantikan penggenapan kehadiran Mesias, yang akan menghancurkan anak-anak kegelapan. Motivasi yang sama juga ditemukan dalam gerakan kerohanian kristen awal yakni menantikan kedatangan kedua Yesus Kristus, dengan bersumber pada injil. Corak hidup yang dilakoni pada bentuk kerohanian ini adalah menjadi rahib. karena pertama-tama para rahib atau religius adalah model manusia baru. Artinya orang yang setia dalam beriman dan partisipasi dalam menyelami misteri Yesus Kristus. Seorang religius mempunyai cita-cita untuk menjadi gambar yang sempurna untuk sampai pada Allah.
Motivasi tentang kerajaan surga dan harapan akan penghacuran akan anak-anak kegelapan sangat terasa dalam Injil Thomas. Sebagai sebuah injil yang bernafaskan gnostik, Injil Thomas membedakan dengan jelas antara ‘dunia atas’, yakni kesatuan dengan Allah dengan ‘dunia bawah’, yakni hidup manusia yang penuh kejahatan dengan dosa. Contohnya: “Murid-muridNya berkata kepadaNya, ‘tunjukkanlah pada kami tempat di mana Engkau berada, karena perlu bagi kami untuk mencarinya.’ Dia berkata kepada mereka, ‘Barangsiapa yang mempunyai, biarlah ia mendengar. Ada terang di dalam manusia terang, dan dia menerangi seluruh dunia. Jika dia tidak bersinar, dia adalah kegelapan.’” (# 24). Motivasi seperti inilah yang merasuki komunitas tempat Injil Thomas diterima. Dunia dilihat sangat gelap (# 28, 30, 42, 82) dan untuk mencapai kepenuhan haruslah terjadi penyatuan dalam pribadi (# 22, 23, 61, 106, 114). Ini merupakan suatu penyelesaian apokaliptik.
Pemahaman Mistis dalam Injil Thomas
Orientasi gnostisme bisa digambarkan terfokus pada pengetahuan dan hal-hal mistik, dan kurang menekankan pada iman. Gnostisisme cenderung memandang rendah Perjanjian Lama, dan percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah yang jahat, allah orang Yahudi[5]. Bentuk gnostisisme yang lebih radikal ini memandang dunia fisik sebagai cacat total dan tubuh manusia rusak dan sebagai penjara, yang dirancang untuk memenjarakan jiwa. Jadi tujuan keselamatan bukan pengampunan dari dosa, melainkan pencapaian pengetahuan di dunia yang rusak dan jatuh bisa dibebaskan. Yesus datang bukan untuk menebus tetapi untuk menyingkapkan, menunjukkan kepada murid-muridNya yang sejati cara melepaskan diri dari dunia kegelapan dan bergabung denganNya dalam dunia terang di atas. Masih ada variasi lain dalam penggambaran Injil Thomas tentang hal mistis.
Injil Thomas dapat dikatakan bersifat mistik-gnosis. Injil ini menekankan pengalaman yang langsung, tanpa perantara, dengan Yang Ilahi. Yesus digambarkan sebagai seorang mistagog, seorang guru misteri ilahi, meskipun tidak pernah sebagai "juruselamat" seperti dalam Injil Yohanes. Sementara penekanan dalam Yohanes seimbang antara mujizat-mujizatnya dan kata-katanya, penekanan dalam Injil Tomas semata-mata pada kata-kata Yesus. Penemuan akan penafsiran mengenai kata-kata inilah yang menghasilkan pencerahan. Injil Thomas mencatat hal ini sebagai salah satu dari ucapan-ucapan Yesus: "Ia yang menemukan penafsiran-penafsiran dari ajaran-ajaran rahasia ini tidak akan merasakan kematian" (# 2) — dan kerahasiaan inilah yang merupakan kontras yang sangat tajam dengan semua ajaran dan Kanon gereja. Temanya menemukan kesejajaran dalam Yohanes, meskipun maksudnya adalah menyerangnya; dengan demikian, dalam Yohanes, keselamatan dipahami sebagai keselamatan dari Hukuman Kekal, dan tidak tergantung pada rahasia apapun.
Berbeda dengan Yohanes, yang membedakan ketidakpercayaan dengan kepercayaan kepada Yesus sebagai Juruselamat, Injil Thomas mempunyai premis keselamatan yang tergantung pada suatu pemahaman yang tercerahkan tentang identitas sejati si pendengarnya — suatu gambaran tentang si pendengar sebagai ilahi. Apabila ucapan-ucapan itu paralel dengan apa yang ditemukan dalam Matius dan Lukas, yaitu ucapan-ucapan di dalam Q, mereka ditempatkan tanpa konteks yang lebih dikenal. Bila dibiarkan dengan cara ini, maka ucapan-ucapan itu tampaknya penuh dengan gnosis meskipun tak satupun dari aparatus dari Gnostisisme yang telah berkembang, seperti dalam Pistis Sophia, dapat ditemukan.
Injil Yohanes menekankan Yesus sebagai "anak tunggal" Bapa (Yohanes 1:3), dan dengan demikian memberikan kepada Yesus status yang unik di antara manusia. Dalam Injil Thomas, Yesus menggambarkan bahwa "Kerajaan Bapa menyebar di muka bumi, dan manusia tidak melihatnya." (# 113). Hal ini pun dapat ditafsirkan sebagai upaya Yesus untuk menghadirkan pencerahan melalui ajaran-ajarannya bahwa keberadaan manusia bukanlah terutama materi melainkan lebih merupakan keberadaan rohani — dengan demikian klaimnya tentang keilahiannya sendiri menyiratkan bahwa "keilahian" ini tidaklah terbatas kepada dirinya saja, melainkan menjadi milik dari siapa pun yang telah dilahirkan kembali secara rohani. Di sini kembali kita menemukan kontras yang sangat jelas dengan Kekristenan kanonik.
Elaine Pagels[6] mencoba melihat bagaimana paham mistik ditemukan dalam Injil Thomas. Pagels melihat bahwa antara Injil Thomas dengan Injil sinoptik berbeda dalam melihat Yesus. Yesus dalam Markus lebih dilihat sebagai seorang yang merayakan datangnya realitas Kerajaan Allah, sedangkan Thomas lebih melihat Kristus sebagai simbol dari interioritas (kepenuhan diri) sejati manusia. Sebagai contoh, dalam tradisi sinoptik Yesus Kristus sudah sejak awal dilihat sebagai Tuhan (Mrk 8:27-29 dan Mat 16:16-20). Namun, dalam Injil Thomas, Yesus dipandang sebagai seseorang yang ada dalam diri manusia (bdk. # 13), karena itu sulit untuk diugkapkan. Bahwa, Yesus menyatu dengan diri manusia yang mencariNya dijelaskan dalam Injil Thomas: “Siapa pun yang akan minum dari mulutku, akan menjadi seperti aku. Aku sendiri akan menjadi dia dan segala hal yang tersembunyi akan diungkapkan kepadanya.” (# 108).
Injil Thomas juga menjelaskan bagaimana proses pencarian atau penemuan yang ilahi itu sebagai proses yang terjadi dalam sang murid sendiri. “Yesus bersabda, ‘Jika kamu mengeluarkan yang ada dalam dirimu, maka yang kamu keluarkan itu akan menyelamatkanmu. Namun, jika kamu tidak mengeluarkan yang ada dalam dirimu, maka yang tidak dikeluarkan itu akan menghancurkanmu’.” (# 70). Dalam mencari Yesus juga dikatakan bahwa ia juga menemukannya di luar, di seluruh wujud. “Yesus bersabda, ‘ Akulah cahaya yang bersinar di atas mereka. Akulah semua itu. Dariku, segalanya muncul, dan kepadakulah segala menuju......’” (# 77). Kedua model penggambaran ini merupakan dua model mistik, yakni yang menyatu dengan diri (introverted myticism) dan yang menuju ke luar (extroverted mysticism).
Elaine Pagels berpendapat dalam Beyond Belief bahwa, meskipun alur Kekristenan ini telah mati, banyak mistik Kristen yang besar secara independen mengambil gagasan-gagasan yang serupa dengan Tomas, dari Meister Eckhart hingga Teresa dari Avila hingga Santo Yohanes dari Salib. Sebaliknya, para sarjana Kristen arus utama, berusaha membuat pembedaan yang jelas antara gagasan-gagasan dasar dari para mistik Kristen ini dan pengarang Injil Tomas, yang terkesan sangat menekankan gnostisisme.
Penggambaran mistis dalam Injil Thomas ini juga dapat dikaitkan dengan bagaimana proses penyatuan diri manusia. Penyatuan merupakan awal bagi penemuan diri manusia untuk mencapai keselamatan. Ketika muridnya bertanya bagaimana akhir dari kehidupan itu, Yesus menjawab bahwa akhir itu adalah keadaan awal di mana manusia memulai pencarian keselamatan (# 18). Mencari awal inilah yang memerlukan semacam askese yang mendalam. Injil Thomas menggambarkan keadaan awal sebagai jalan masuk ke dalam kerajaan. Keadaan awal itu digambarkan demikian:
Yesus melihat anak-anak yang sedang menyusu, dan ia berkata kepada murid-muridnya, “Anak-anak ini seperti orang-orang yang masuk ke dalam kerajaan.” Mereka bertanya kepadaNya, “jika kami anak-anak, akankah kami masuk ke dalam kerajaan?” Yesus menjawab mereka, “pada waktu kamu membuat dua menjadi satu, dan pada waktu kamu membuat bagian yang batiniah seperti bagian yang lahiriah, dan yang lahiriah seperti yang batiniah, dan bagian sebelah atas seperti bagian bawah, dan ketika kamu membuat yang laki-laki dan perempuan menjadi sesuatu yang tunggal, sehingga yang laki-laki tidak bukan lagi laki-laki dan yang perempuan bukan lagi perempuan, ketika kamu menjadikan mata menggantikan mata, tangan menggantikan tangan, kaki menggantikan kaki dan sebuah gambar menggantikan sebuah gambar, maka kamu akan masuk ke dalam kerajaan.”
‘Anak-anak yang menyusu’ (bdk # 4, 46) adalah suatu model yang sempurna bagi mereka yang masuk dalam kerajaan Allah, yaitu mereka yang menemukan kembali kodrat aseksual, sebagai bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Maksud dari frasa ‘ketika kamu membuat yanglaki-laki dan perempuan menjadi sesuatu yang tunggal sehingga yang laki-laki bukan laki-laki dan perempuan bukan lagi perempuan’ adalah untuk menjelaskan bagaimana keadaan awal yang perlu diperjuangkan. Keadaan awal itu mengacu pada keadaan manusia pertama di Eden, ketika manusia belum dipecah menjadi dua dan belum jatuh dalam dosa. Inilah kodrat androginik, kodrat bukan laki-laki bukan perempuan. Inilah keadaan paling awal dari taman Eden, ketika arketipe surgawi dan manifestasi duniawinya masih bersifat satu. Itulah makna pencarian mistis keselamatan dalam menemukan ‘awal’. Dengan kembali pada keadaan Eden paling awal, manusia masuk ke dalam keselamatan, ke dalam kerajaan.
Penutup
Berbicara tentang injil-injil apokrif merupakan suatu pengalaman yang sungguh menarik. Ada begitu banyak hal yang dapat dipelajari dan diambil dari sana. Injil Thomas sebagai salah satu injil yang menimbulkan perdebatan tentang Yesus sejarah banyak memberikan gambaran tentang bagaimana proses pengenalan Yesus dan pola penghayatan kekristenan awal. Mistisime yang dijabarkan dalam tulisan ini, hanyalah salah satu dari sekian banyak tema yang bisa diangkat dalam pembelajaran tentang Injil Apokrif. Kekayaan mistik dalam Injil Thomas mungkin bisa ditimba sebagai bahan pembelajaran tentang bagaimana gerakan monastik awal kekristenan.
Daftar Pustaka
Ehrman, Barth D., Lost Scriptures, New York: Oxford University Press, 2001.
Evans, Craig Merekayasa Yesus, Yogyakarta: Andi Offset, 2007.
Freedman, David Noel (ed.), The Anchor Bible Dictionary, vol. 06, New York: Double Day 1992.
Koester, Helmut dan Thomas O. Lambdin, “ The Gospel of Thomas”, dalam James M. Robinson (ed.), The Nag Hammadi Library, San Francisco: Harper & Row, 1988.
Kristiyanto, Eddy, Sahabat-Sahabat Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Pagels, Elaine, “Ortodoks melawan Gnostik: Konfrontasi dan Interiritas dan Agama Kristen Awal”, dalam The Other Side of God, terjemahan Qalam-Yogyakarta, 2001.
Rahmadani, Deshi, Menguak Injil-Injil Rahasia, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
[1] Menyebut jemaat perdana tidak dimaksudkan hanya untuk jemaat dalam Kisah Para Rasul tetapi mengacu pada orang-orang Kristen pada abad-abad awal, khususnya saat penulisan Injil Thomas, sekitar abad II-IV.
[2] Bdk. Elaine Pegels, “Ortodoks melawan Gnostik: Konfrontasi dan Interiritas dan Agama Kristen Awal”, dalam The Other Side of God, terjemahan Qalam-Yogyakarta, hal. 96.
[3] Craig Evans, Merekayasa Yesus, Yogyakarta: Andi Offset, 2007, hal. 61.
[4] Eddy Kristiyanto, Sahabat-Sahabat Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2001. hal. 36-40.
[5] Craig Evans, Merekayasa Yesus, Yogyakarta: Andi Offset, 2007, hal. 64.
[6] Elaine Pegels, “Ortodoks melawan Gnostik: Konfrontasi dan Interiritas dan Agama Kristen Awal”, dalam The Other Side of God, terjemahan Qalam-Yogyakarta, hal. 96-98.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar