MENJADI RELIGIUS VISIONER
Ophin Tanis, OFM
Menjadi seorang religius merupakan sebuah pilihan hidup yang kiranya bermula dari adanya persepsi khusus dan ingin menghayati cara hidup tersebut. Namun, seorang religius (Imam, Biarawan, dan Biarawati) kerapkali harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua persepsi tersebut dapat sama atau begitu saja disamakan antara satu dengan yang lain. Persoalannya adalah apakah setiap person mau menyamakan persepsi. Perbedaan atau keinginan untuk menyamakan persepsi bukan lagi soal sekadar fisik-biologis dan budaya tetapi juga cara pandang dan pada akhirnya cara hidup dan menghidupi komunitas religius tersebut..
Karen Amstrong dalam Through The Narrow Gate membeberkan perasaan nervousnya ketika masuk biara. Ia sungguh-sungguh berusaha mencari Sang Khalik di balik tembok biara. Apa yang ia dapatkan? Ternyata, menurutnya, “peziarahan hidup (=religius) bukanlah piknik yang nyaman melainkan sebuah askese penuh bahaya dan kesukaran. Ketenteraman batin tidak didapatkan malahan kesakitan jasmani yang nampak.” “Vanitas Vanitatem Mundi”, demikian ia mengatakan tentang situasi tersebut, yang artinya kesia-siaan dari sebuah dunia yang sia-sia. Bagi Karen, pekerjaan pendidikan rohani syarat akan kerumahtanggaan, dan itu bertentangan dengan seleranya. Pekerjaan itu (menjadi religius) membunuh minat, merusak karakter, dan mengerdilkan bakat. Demikian kisah Amstrong, dan karenanya ia menjadi seorang monoteis freelance (percaya Tuhan, tetapi tidak harus terikat oleh agama apa pun).
Pengakuan ini mungkin dianggap hanya sebuah ungkapan kekecewaan akan situasi komunitas religius, yang kadang monoton, kaku, dan membosankan –seperti dialami banyak anggota religius dewasa ini. Namun, perlulah disadari bahwa perbedaan persepsi bukan berarti cara hidup pun harus berbeda, seperti yang dilakukan Amstrong. Inilah persoalan dasar dalam hidup religius, yakni kemampuan untuk menyamakan persepsi dalam kehidupan berkomunitas dan dalam semangat tarak-kesucian. Persoalannya apakah setiap persona mau menyamakan persepsi?
Menemukan Visi-Misi Hidup Bersama
Beberapa waktu terakhir, beberapa lembaga religius, –khususnya yang menangani pendidikan, berusaha merumuskan kembali visi-misi lembaganya. Pembaharuan visi-misi dinilai penting mengingat tuntutan perkembangan dunia dan penyamaan visi-misi dengan lembaga induk (Tarekat/Konggregasi). Dengan pembaharuan seperti itu, diharapkan karya tersebut berjalan dalam kerangka pemahaman yang sama dan dalam sistem yang diterima semua pihak.
Visi-misi menjadi pegangan dan landasan dalam bertindak: visi berarti arah dan tujuan; misi berarti langkah konkrit untuk mencapai tujuan tersebut. Visi-misi yang teratur bisa mengatasi persoalan perbedaan persepsi yang seringkali terjadi. Hanya dengan persepsi yang seragam anggota religius bisa terlibat dalam kerangka karya. Visi-misi bukan sekadar konseptualisasi keinginan berkarya, tetapi terarah pada konkretisasi pengalaman hidup bersama. Visi-misi bukan sekadar mencari tataran ideal hidup bersama, tetapi pelaksanaan hidup bersama itu.
Tiang utama dalam penerapan visi-misi adalah pengalaman konkrit. Pengalaman yang dimaksud adalah pola prilaku selama ada dan hidup bersama orang lain. Pengalaman merupakan hal konkrit, bukan hal ideal. Karena itu, jika dan hanya jika ada pengalaman kita bisa merumuskan visi-misi yang penting. Tanpa itu, visi misi hanya merupakan hal ideal. Konsekuensinya adalah visi-misi akan terus berkembang, bukan menjadi hal yang statis.
Sulitnya menjalani visi-misi karya karena melihat visi-misi sebagai hal yang kaku, statis, seolah-olah tidak ada celah bagi kreativitas dan inovasi di dalamnya. Padahal kreativitas dalam bermisi adalah unsur penting dalam hidup bersama. Inovasi juga berarti menemukan sesuatu yang baru dalam visi tersebut yang sesuai dengan perkembangan yang ada. Jadi, mungkin yang tetap adalah rumusan baku –yang akan dipajang, tetapi yang dinamis adalah penerapannya dalam kehidupan bersama.
Menjadi Religius Visioner
Dengan menemukan visi-misi dasar dalam kehidupan bersama model dan cara hidup sebagai seorang Religius menjadi semakin sempurna. Sebagai seorang religius yang dengan sadar melibatkan diri pada karya Kerajaan Allah, peristiwa Inkarnasi kiranya menjadi landasan dalam bertindak. Inkarnasi dalam konteks hidup dewasa ini berarti menjadi semakin manusiawi, dengan terlibat dalam kehidupan bersama. Gaudium et Spes menegaskan bahwa duka dan kegembiraan, harapan dan kecemasan dunia adalah duka dan kegembiraan, harapan dan kecemasan umat Allah. Inilah model inkarnasi yang ideal. Inilah visi-misi yang ideal dan menjadi tujuan akhir hidup bersama.
Sebagai seorang Religius, kreativitas dalam menemukan bentuk inkarnasi ideal merupakan tuntutan yang niscaya. Pilihan hidup khusus, yakni hidup selibat maupun terikat kaul-kaul religius, bukan berarti berbeda dengan umat awam. Justru, dalam perbedaan itulah yang harus dilewati. Inovasi baru menjadi religius berarti berani menyeberang ’perbatasan’ yang kerapkali menjadi membedakan seorang religius dengan yang lain. Konkretisasi sederhana dalam kreativitas tersebut adalah perhatian dan keterlibatan melayani orang-orang kecil dan terpinggirkan. Karena memang, konsekuensi panggilan inkarnatif adalah hidup untuk menjadi semakin terlibat dalam pergulatan dunia.
Kenyataan lain yang dihadapi seorang religius adalah kesadaran bahwa dirinya diutus menjadi pewarta Injil. Kenyataan diutus menuntut setiap orang untuk terus menerus menyeberangi perbatasan yang ada. Perbatasan bukan sekadar soal geografis, tetapi terarah pada perbedaan konteks dan cara hidup masyarakat. Kita hidup dalam masyarakat yang terkotak-kotak, di mana kadang-kadang pemisahan itu menjadi terlalu kokoh ketat.
Evangelisasi memerlukan usaha mencari jalan yang membuat sekat-sekat berpori-pori, yang memungkinkan inter-komunikasi dan inter-komunio. Dikotomi perempuan/laki-laki, religius.awam, kaya/miskin, budaya/alam, penduduk asli/imigrant, pekerjaan/doa, kiranya dapat diseberangi dan kita semua hidup dalam kesatuan sebagai Gereja, Umat Allah. Dengan kesadaran seperti itu, seorang religius dididik untuk dialog dalam semangat Roh. Karya Rohlah yang menggerakan kita pergi, bahkan semakin jauh, tidak hanya dalam makna geografis, melainkan juga melampaui perbatasan-perbatasan etnis dan agama, demi suatu misi yang sungguh-sungguh universal.
Dalam kerangka evangelisasi seperti itu, kerja sama dengan kaum awam perlu digalakkan. Dei Verbum art. 10 menegaskan bahwa kaum awam melaksanakan hak dan kewajiba mereka untuk memelihara, melaksanakan dan mengakukan iman yang telah mereka terima. Orang awam adalah penginjil karena hak mereka, bukan sekadar mengisi kekurangan tenaga misioner. Karena itu, seorang anggota Religius harus masuk dalam ’pertobatan eklesiologis’. Artinya, kesamaan kaum religius dan umat awam menjadi tekanan dasar karena berpangkal dalam baptisan yang sama dan dipanggil untuk mewartakan karya Keselamatan Allah di tengah dunia.
Penulis adalah Mahasiswa
STF Driyarkara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar