RELIGIOSITAS DAN JATI DIRI
Jati diri atau innerlichkeit dalam bahasa Jerman, adalah sesuatu yang berasal dari dan ada dalam kedalaman lubuk hakekat kita sebagai manusia, dan hal itu ditunjukkan dalam bahasa tubuh dan pola prilaku dalam kehidupan sehari-hari”, demikian YB Mangunwijaya dalam novelnya Burung-Burung Manyar. Namun, manusia yang bertubuh dan sekaligus memiliki tubuhnya adalah sebuah misteri dan penuh teka-teki karena selalu berusaha menampilkan sesuatu yang baru dan sulit ditebak. Memang perasaan atau emosi yang membangun pola relasi manusia akan menjadi misteri karena proses rasionalisasi atas perasaan tersebut. Lebih dari itu, keadaan diri dan proses adaptasi diri pada lingkungan semakin mengaburkan jati diri manusia. Padahal, jati diri adalah tampilan diri yang sesungguhnya. Jadi, hidup manusia menjadi misteri karena jati diri yang sesungguhnya tidak ditampilkan.
Memang, manusia bukanlah binatang yang mengandalkan insting dan selalu jujur ketika ia lapar, ketika ia ingin bercinta, ketika ia ingin menarik perhatian lawan jenis, atau ketika ia membela diri. Tapi pola prilaku manusia tidak bedanya dengan binatang, bahkan bisa lebih kejam. Apabila binatang jujur karena itu memang identitasnya, manusia jujur lebih karena insting ingin berkuasa yang tertanam dalam dirinya. Manusia selalu mencari alasan dan memiliki banyak syarat apabila ingin sesuatu yang lain, tidak jujur, bahkan mengorbankan yang lain demi kepentingannya, selalu membela diri bukan karena ingin jujur tetapi agar ingin selamat. Kaburnya identitas diri –kalau boleh menjadi sebutan lain bagi jati diri- adalah akibat dari perhitungan kuantitas, untung rugi, bukan karena masalah kualitas di mana manusia mendambakan arti, makna hidup, mengapa dan demi apa maka perlu bergandengan tangan dan aktif dalam kehidupan.
Apabila ingin jujur, kaburnya jati diri manusia adalah beriringan dengan kaburya nilai-nilai religiositas dalam kehidupan sehari-hari. Orang modern mungkin ‘muak’ dengan agama karena terlalu mengekang dan dogmatik, namun perlu disadari bahwa justru nilai-nilai religiositaslah yang masih menampilkan kejujuran hidup manusia. Nilai religiositas menjadi terasing mungkin karena terarah pada yang abstrak (Tuhan), tapi justru ketika manusia terarah ke sana manusia akan merasa telanjang, akan merasa berdosa, akan merasa kurang, dan mungkin akan mendapat kekuatan baru.
Romo Mangun mengatakan bahwa manusia modern yang sering dicemooh sebagai sekular, pada hakikatnya mencari kemungkinan religiositas yang lebih otentik, lebih mengerti, lebih tahu diri terhadap kemahakuasaan Tuhan. Dari pihak lain beliau melihat bahwa hal ini penuh risiko dan penuh bahaya gagal karena cenderung serba coba-coba, walaupun justru mempesonakan karena ada generasi baru yang lebih kreatif dari pada menjiplak, lebih bahagia dengan itu daripada tinggal meneruskan warisan. Fritjof Capra, dalam The Turning Point (1980) menulis: “ manusia dihadapkan pada krisis global yang serius, yang mnyentuh semua aspek kehidupan ......... dan salah satunya adalah perubahan paradigmatik pada nilai-nilai dalam masyarakat.” Kehidupan manusia selalu ditandai perjuangan untuk bereksistensi dan mencoba untuk selalu merevisi ke arah yang lebih baik nilai-nilai kehidupan yang otentik dan menyentuh langsung pada kehidupannya.
Mungkin ada benarnya untuk menempatkan spirit New Age dalam kontek perwujudan jati diri manusia yang sebenarnya. Paradigma transformatif yang menjadi pegangan kalangan New Agers adalah “to change the world, we first had to change our selves” (untuk mengubah dunia, kita harus mengubah diri kita terlebih dahulu). Karena memang, penemuan jati diri manusia haruslah dimulai dari diri sendiri, dari yang berdimensi personal, kepada yang sosial. Inti dari transformatif ini adalah peka terhadap krisis, sambil mentrasformasikan diri menuju hidup secara harmonis. Agar bisa berjalan dalam koridor yang benar, nilai-nilai religiositas menjadi hal utama yang perlu mengalami proses transformatif. (Ophin Tanis, OFM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar