Selasa, 19 Oktober 2010

HUMANIORA


LET’S LIVE FOR LIFE
Seorang sahabat muda siswa SMA, dalam kunjungan ke Museum Kesaktian Pancasila, Lubang Buaya, mengatakan demikian: “betapa kejamnya PKI, betapa sadisnya cara penyiksaan yang digunakan, apakah memang mereka tidak mempunyai agama?” Mungkin, maksud dari perkataan ini adalah sudah tidak ada lagikah kemanusiaan di Indonesia? Peristiwa G/30/S merupakan salah satu tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi. Dan, tragedi seperti itu sepertinya tidak pernah berakhir, mulai dari kerusuhan etnis dan agama di Poso, terorisme, perlindungan hukum yang rendah, dan yang terakhir, yang sarat kontra, rencana pemberlakuan Hukuman Mati di Indonesia. Dari beberapa hal ini, kita mungkin bertanya apa makna penghargaan hidup di Indonesia, ketika mulai dari rakyat bawah sampai penegak hukum tidak lagi melihat hidup sebagai prioritas?
            Terlepas dari kenyataan bahwa penghargaan terhadap kehidupan mengalami dedgradasi (penurunan), tentunya masih ada yang berjuang bagi keadilan dan kehidupan. Perjuangan bagi kehidupan  haruslah tertanam dalam hati nurani kita. Karena, kehidupan itu pada dasarnya suci dan berasal dari Pencipta. Kita tidak bisa mengambil dan menentukan hidup seseorang yang berasal dari Allah, hanya Dia-lah yang bisa menentukan hidup kita dan kepada Dia kita bersyukur. Pada moment ini, Allah sendiri tidak pernah meninggalkan kita. Peristiwa inkarnasi merupakan ungkapan solidaritas dan keberpihakan Allah pada ciptaan. Untuk direfleksikan, kalau Allah sudah sedemikian mencintai kita, bagaimana kita harus membalas cintanya?

Selasa, 12 Oktober 2010

HUMANIORA

RELIGIOSITAS DAN JATI DIRI

 
Jati diri atau innerlichkeit dalam bahasa Jerman, adalah sesuatu yang berasal dari dan ada dalam kedalaman lubuk hakekat kita sebagai manusia, dan hal itu ditunjukkan dalam bahasa tubuh dan pola prilaku dalam kehidupan sehari-hari”, demikian YB Mangunwijaya dalam novelnya Burung-Burung Manyar. Namun, manusia yang bertubuh dan sekaligus memiliki tubuhnya adalah sebuah misteri dan penuh teka-teki karena selalu berusaha menampilkan sesuatu yang baru dan sulit ditebak. Memang perasaan atau emosi yang membangun pola relasi manusia akan menjadi misteri karena proses rasionalisasi atas perasaan tersebut. Lebih dari itu,  keadaan diri dan proses adaptasi diri pada lingkungan semakin mengaburkan jati diri manusia. Padahal, jati diri adalah tampilan diri yang sesungguhnya. Jadi, hidup manusia menjadi misteri karena jati diri yang sesungguhnya tidak ditampilkan.

Kamis, 07 Oktober 2010

Sebagai Pembuka.....

TELEPHON

Sudah lama aku menunggu janjimu,
semenjak kau meminta kau untuk berbicara.
“Hubungi nomor ini, misscall tak apa,” pintaku saat itu.
Kau tertunduk, memberi harap padaku.

T’lah lama aku siapkan jawab atas tanyamu
“Aku ingin mencintaimu secara sederhana,
dengan kata yang tak sanggup diucapkan
Via udara mungkin kita  bisa berbicara

Penantianku t’lah lama atas irama nada yang sama
Asaku merindukan suara yang pernah mendesah dibahuku
Ingin kujawab pinta terakhirmu, hanya dengan beberapa untaian kata
via udara, karena aku bingung ‘tuk bersua muka

    Tapi............. ah menanti........
               Memang membosankan.............
                         Dering itu tak kunjung tiba.............